intelectual property.

you are welcome to look, read, study, and learn. you are welcome to link/share it. you are welcome to quote or rewrite some of my post, but please don't forget to mention me/link my site.
but you are not allowed and please don't take any of the picture (with or without watermark) from this site without my permission.

Sunday, July 7, 2013

Cerita tentang sudut untuk menginap itu.

Mungkin semuanya dimulai ketika aku kecil dan masih tinggal dengan nenekku.
Rumah nenekku dulu tepat berada di paling ujung jalan. Kiri, depan, dan belakangnya sudah berupa lahan persawahan yang luas. Rumah nenekku berada di jalur jika kamu ingin naik ke pemandian air panas Bayanan. Sebuah jalur yang cukup ramai.

Dulu kadang kala ada musafir yang tiba-tiba mengetuk pintu untuk memakai ruang depan rumah yang biasanya untuk kursi tamu sebagai tempat bermalam. Memang sih tidak begitu sering, tapi tampaknya apa yang kulihat ketika kecil itu sungguh berkesan.
Sejak itu aku selalu berpikiran jika aku punya tempat sendiri nanti, aku akan selalu membuka pintu dan menyediaan tempat untuk teman yang butuh tempat bermalam.

And really.. What a loong wayy... Sebuah keinginan dari seseorang yang sebenarnya tak mudah memasukkan orang baru ke kehidupan pribadi. Kepercayaan membiarkan seseorang masuk tempat tinggal pribadi adalah sebuah hal yang besar. Tapi aku selalu merasa bisa berbagi itu hal yang menyenangkan. :-)

Dimulai dari kadang teman suami dari luar kota yang menginap di ruang tamu karena kami tak punya kamar extra, hingga sekarang kami benar-benar punya 1 kamar ekstra. (yang menyenangkan menyisihkannya karena benar-benar terpakai) Kadang dipakai asisten poyeng yang butuh tempat bermalam, dan juga jika orang tua mungkin ingin berkunjung dan menginap.


Yap, memang bukan kamar hotel, hanya ada kasur dengan 1 bantal dn 1 guling, tak ada lemari, dan bahkan ada tumpukan benang memenuhi sudut ruangan.. Tak ada fasilitas apapun, tak ada free breakfast, tak ada kamar mandi pribadi, dan tak ada antar jemput dan fasilitas transport, bahkan kadang kami tak bisa ada di rumah untuk menemani, tapi rumah kami akan selalu terbuka untuk teman yang membutuhkan tempat untuk bermalam.


:)

Wednesday, July 3, 2013

my chicken soup : Beck

mengenang Beck (2011-2013)


Aku sudah mengenal Beck mungkin bisa dibilang sejak lahir. Jika mendengar anak kucing mengeong di eternit rumah setelah dilahirkan bisa dihitung.

Secara resmi, Beck menjadi anggota keluarga kami tepat pada hari raya Idul Adha tahun 2011. Kucing ini secara khusus dipilih sendiri oleh suamiku diantara saudaranya yang lain yang berwarna hitam putih.

Banyak insiden lucu yang menemani masa-masa awal Beck tinggal bersama kami. Seperti ketika induknya mendadak menjemputnya pulang, karena Beck mengeong terus dari dalam ruang dan menggaruki pintu ketika kami sedang pergi. Atau ketika meskipun sedang mencret berat, dia tetap bersemangat dan berlari-lari di dalam rumah sambil menyebarkan mencretnya (jorok? yeah!).

Yang sangat kusukai dari Beck kecil adalah kecepatannya menerima pelajaran. Potty training langsung dikuasainya dalam sekejap. Dan ketika kami terpaksa mengurungnya di garasi ketika dia sakit diare, dia tampak mengerti dan kemudian mencari sendiri tempat untuknya tidur di malam hari selama seminggu "karantina".

* * *
Beck kucing yang ramah. Banyak kucing jantan di komplek rumah kami, dan mereka cenderung berkelahi memperebutkan wilayah. Tapi tampaknya Beck tak pernah jadi kucing jantan yang dianggap saingan. Malah dia selalu berhasil bermain bersama jantan lain di sekitar rumah. Kau tak akan bisa menolak matanya yang lucu itu!

Ketika kami pindah rumah, Beck sempat hilang selama seminggu sebelum akhirnya berkumpul lagi. Dan ternyata dia selama seminggu itu memakai daya pikatnya supaya dia bisa ikut nebeng di rumah seseorang dengan cara mendekati kucing persia jantannya, yang tampaknya tak keberatan ditempeli Beck, dan bahkan melindunginya dari kucing liar yang sering menyambangi wilayah tersebut!

Satu-satunya hal yang menyusahkan dari Beck adalah makan dan minum. Menyuruhnya minum sangat amat sulit, sampai-sampai dehidrasi selalu menjadi diagnosa pertama setiap kami pergi ke vet. Makan pun sama saja. Pemilih setengah mati. Sampai-sampai ketika kami menjemputnya pulang setelah dia hilang, hal pertama yang dimintanya adalah : makan! Pun pernah kami bawa ke dokter hewan karena tak mau makan tiga hari, dan ujung-ujungnya hanya karena dia bosan dengan rasa makanan yang ada di rumah. omigod!!

Beck adalah anggota keluarga kami. Dia menemani kami disaat apapun. Membuat kami jadi melakukan dan belajar sesuatu yang baru tentang memelihara hewan peliharaan secara serius. Bahkan secara perbandingan, Beck lebih sering ke dokter daripada kami karena kami terlalu berjaga-jaga! Beck sering kali menjadi alasan kami untuk segera pulang ke rumah, dan bahkan mengkhawatirkan dan merindukannya setiap kali kami harus tak dirumah lebih dari dua hari.

Dia selalu menyambut kami ketika kami pulang ke rumah, jika tidak terlalu malam, kami pasti akan selalu menemukannya duduk di depan pintu ketika kami membukanya, dan jika kami pulang malam dan sudah jam Beck untuk "patroli" kompleks, dia pasti akan selalu menyempatkan diri mengikuti kendaraan kami pulang, "bercengkrama" sebentar dengan kami sebelum kembali pergi keluar rumah lewat pintu samping yang memang selalu terbuka untuknya.

* * *
Beck adalah kucing yang selalu ceria dan lincah, bahkan ketika dia sakit. Jika napsu makan sering jadi kekhawatiran untuk hewan yang sakit, Beck tidak pernah mengalaminya. Tapi kali ini dia kena penyakit serius yang jarang : Stroke kucing. Aku tahu benar ini adalah siksaan besar untuknya karena dia tak pernah bisa diam dan selalu cerewet. Tapi sekarang, untuk makan saja perlu dibantu, dan harus melakukan segala hajat dan tidur di kandang. Sesuatu yang sangat dibenci Beck.

Aku tahu dia adalah seekor kucing bersemangat besar. Dan aku akan berjuang bersamanya sepanjang yang dia mau. Tapi tampaknya aku harus mengerti bahwa waktunya sudah tiba, ketika fisiknya semakin lemah dan kurus. Akhirnya setelah 3 bulan sejak stroke nya yang pertama, Beck mengalami infeksi dalam yang membuatnya tak akan bisa bertahan diluar keinginannya untuk tetap bersama kami. Akhirnya suatu malam, kami menemaninya menyudahi perjuangannya..
You'd be always be my first real pet.. no others will take that from you 



Book Review : Kreasi Rajut Topi 100% Knitting

Dibilang review buku juga sebenarnya ini buku buatanku sendiri..  φ( ̄ー ̄ )ノ
Bukuku yang ketiga!! Yayy!!! \(@ ̄∇ ̄@)/

Kali ini bekerja sama dengan penerbit Indonesia Tera, aku merasa lebih puas dengan buku ini...
Berbeda dengan 2 buku sebelumnya, selain menulis naskah isi (ya iyalah, nulis buku ngapain lagi?), aku juga dilibatkan dalam proses pengambilan foto dan layoutingnya! Aku jadi merasa ikut meninggalkan jejak dalam keseluruhan bentuk fisik buku ini.. My little child... (*lebay)

Di pengambilan foto, tentunya bukan aku terus ikut ngambil foto (dan thank God ga harus pake foto dokumentasi punya Poyeng lagi), tapi dikasi fotografer lengkap dengan modelnya, aku bisa ikut kasi suara juga tentang jenis pencahayaan yang diinginkan, dan sudut karya mana yang ingin diperlihatkan..(kalo masalah teknis mah serahkan ke ahlinya saja (^_−)☆ ) Ikut nongkrong seharian sepanjang proses pengambilan foto dan juga ngeliat fotonya sudah cukup "dapet" atau belum.. dan juga retake ulang untuk petunjuk knitting bukunya (akhirnya aku bisa pake tanganku sendiri untuk petunjuk tusukan knitting dan membiarkan orang lain yang memfoto)

Di layout, bukan pula berarti aku yang ngutek2 komputer, tapi aku bisa ikut kasi suara tentang warna yang sebaiknya dipakai, bentuk geometri yang sebaiknya banyak dipakai, dan konsep yang tetap dipegang..

Hingga akhirnya melahirkan "si cantik" ini!!
*ooh.... i lop yuuuu  (´ω`★)

Temen crafter Nurcha, juga sudah berbaik hati menulis resensi tentang buku ini dengan sangat manis, bisa kamu lihat [disini]

* * *
Untuk mendapatkan buku ini, kamu bisa ke Gramedia terdekat, [poyenghobby.com], atau ke offline atau online store manapun yang kamu tahu.


Kreasi Rajut Topi : 100% Knitting

Penerbit Indonesia Tera
ISBN 9797751945
Penulis Ajeng G Sitoresmi
64 halaman, full color
harga resmi 39.000

* * *
btw, ada sedikit ralat di buku ini (yang untungnya ga begitu krusial) =
  • Catatan penulis di halaman 36 dan 55 terbalik letaknya, jadi catatan di hal 36 sebenarnya untuk topi di halaman 55, begitu juga sebaliknya
  • Jangan hiraukan tulisan "memutar 90 derajat ke kiri" di bawah foto di hal 3, karena sebenarnya itu untuk kebutuhan editing pra terbit



Have a nice day!! (●´∀`)ノ♡

Monday, June 17, 2013

Random thought : old memory #1

When i was just a teenage girl, riding my motorcycle alone, "enjoy" the trafic and getting so lost in my own mind, sometimes i thoughtMaybe i'am dead, and i just don't know yet. And maybe it was just my clueless wandering memory who ride this motorcycle and crossed the streets safely.

Ahhh... I kinda of missed it.
Young, free, and always full of imagination. (even if was sometimes a dark one)

Friday, March 8, 2013

Pets : Menyuapi (Force Feeding) Kucingmu



Ini adalah Beck. Kucingku yang sempat mengalami sekarat awal januari 2013. Dia terkena kejang dan stroke parah karena reaksi obat. Dari benar-benar lumpuh, tak bisa membuka mulut, dan buta sementara, akhirnya sekarang Beck sudah bisa dibilang kucing yang mandiri lagi diluar masalah cacat kaki, belum bisa memakai lidah, dan berat yang dibawah rata-rata. Dia sudah dinyatakan bisa di grooming lagi!!

Tapi, Beck tak akan bisa bertahan sampai saat ini, jika di masa-masa lumpuhnya dia tidak makan dan dibiarkan mati. Aku akan mencoba berbagi pengalaman ketika masa-masa aku melakukan apa yang aku bisa saat itu. Aku saat itu sudah pasrah, menghentikan semua pengobatan, dan menyerahkan padanya jika dia memutuskan untuk menyudahi dirinya sendiri. Yang kulakukan hanya tetap memberinya makan dan tempat, agar jika dia memilih matipun bukan karena malnutrisi atau kedinginan.

Mempersiapkan Kandang.

Untuk kucing yang sakit parah, dia tidak akan mampu mempertahankan panas tubuhnya dengan baik karena dia jadi jarang bergerak dan suhunya akan terus turun (kamu bisa mengenali gejalanya dimana kaki dan sendi kucingmu menjadi kaku), apa yang kau lakukan adalah memberi penerangan lampu pijar di kandangnya. Cobalah dengan memakai 25 watt untuk terus membantunya tetap mempertahankan panas tubuhnya.

Jika kucingmu kadang mengalami kejang, pastikan dia tidak melukai dirinya di dalam kandang tanpa sadar. Aku memberi kardus di bagian alas dan sekeliling dinding kandang yang akan mencegah kakinya tersangkut ke jeruji kandang ketika dia kejang, sekaligus bisa memberi dan menyimpan kehangatan. Kau bisa mengganti kembali ke alas handuk kering jika dia sudah tidak kejang lagi. Dan tentu saja bersihkan kandangnya setiap hari. :)

Cara menyuapi / memaksa makan (force feed) kucingmu.

Dan sekarang adalah menjaga dia tetap makan.
Aku bersyukur kucingku meskipun waktu itu lumpuh total, tetap memiliki nafsu makan dan tidak pernah memuntahkan kembali makanan yang kusuapi.

Di kasusku, aku sama sekali tidak memberi minum paksa karena kucingku sama sekali tidak bisa memakai lidahnya dan aku takut kucingku jadi tersedak, solusi untuk mencegahnya dehidrasi, aku mencampur makanan kucing kalengan dengan banyak air hingga makanan yang hendak disuapi mirip bubur.

Jangan biarkan kucingmu (sesakit apapun) tidak makan lebih dari sehari. Karena hal itu bisa membahayakan fungsi lambungnya dan bisa berujung ke maag jika dibiarkan tidak makan berhari-hari.
Jika kucingmu sangat sakit, dia tidak akan bisa makan banyak dalam satu waktu, jadi cobalah memberinya porsi kecil saja, tapi kamu bisa memberinya makan lagi setiap minimal 2 jam sekali.

Persiapan force feed : suntikan plastik yang ujungnya sudah dipangkas. makanan kucing kalengan, mangkuk, tisu kering, tisu basah non alkohol.
  • Sisihkan waktu luang setidaknya setengah jam. (yak, bisa saja prosesnya bakal lama)
  • Kucing yang tidak bisa bergerak cukup mudah disuapi, karena kamu tidak perlu menahan tubuhnya karena dia ingin melarikan diri (kucing biasanya tidak suka dipaksa makan). Jika kucingmu bisa duduk sendiri, posisikan dia menjadi terlentang menyamping, karena akan lebih mudah menyuapinya daripada jika posisi kepalanya tegak.
  • Ambil makanan memakai suntikan plastik.
  • Gunakan telunjuk atau jempol tanganmu yang tidak memegang suntikan untuk membuka mulut kucingmu, buka di bagian mulut sampingnya (yang tidak ada giginya) untuk mengurangi resiko tergigit dan lebih mudah.
  • masukkan segera makanan dari sisi mulut yang sebelahnya dengan cepat dan tarik jarimu agar tidak tergigit. (tergigit itu sungguhan sakit!!)
  • Posisikan mulutnya agak keatas untuk mencegah makanan tumpah keluar lagi, dan sedikit membantu kucingmu menelan.
  • Beri waktu kucingmu untuk menelan makanan (kamu bakal bisa melihat makanan turun di kerongkongan kucingmu), dan pastikan tidak ada makanan yang masih di mulutnya (cek dengan membuka mulutnya. Jika ada makanan di bagian mulut depan, dorong ke belakang untuk mempermudah menelan) sebelum memberi makan lagi.
  • Ulang proses diatas hingga makanan yang kau siapkan habis.
  • Tisu basah dan tisu kering tentu saja untuk membersihkan kucingmu dari makanan yang menempel, karena jika tidak dibersihkan dan dikeringkan, kucingmu bisa menjadi sangaat kotor dan jamuran. (apalagi mustahil bisa grooming, jika dia masih sakit kan?)
Seiring waktu dan kesehatan yang meningkat, akan ada satu masa dimana kucingmu akan mencoba makan sendiri. Meskipun di awal kamu akan masih menyuapinya di beberapa persen porsi makannya meskipun dia sudah bisa makan sendiri, lama kelamaan kucingmu akan bisa 100% makan sendiri! Yayy!! (saranku gunakan mangkuk tak bersudut bawah untuk tempat makannya, supaya dia tidak kesulitan mencoba meraih makanan yang terselip di sudut bawah)

Kesabaran dan ikhlas adalah kunci utama merawat kucing (atau hewan apapun) yang sakit. Santai dan jangan menganggapnya sebagai beban. Yang tentunya tidak-lah jika kita menganggap kucing tersebut sudah sebagai anggota keluarga. Lagipula berani memelihara berarti harus berani bertanggung jawab kan? :)

Semoga sharing ini membantu dan semoga kucingmu baik-baik saja :)

Tuesday, February 12, 2013

Stretch your leg. Walk for a bit


Aku bukan orang yang "beruntung" berada di pekerjaan dimana kamu bisa mau tak mau pergi ke banyak tempat, hidup (walau sementara) di tempat lain yang baru, atau bertemu orang-orang yang pada keadaan normal hanya sedikit kemungkinan bisa bersinggungan kehidupan.

Yap, sedikit agak berbeda dengan pegawai yang terikat jam kantor, sebagai orang yang bikin usaha sendiri dan baru mulai, waktu luang dimana kamu bisa benar-benar melakukan apa yang kamu mau adalah sesuatu yang langka dan benar-benar hanya bisa terjadi jika kamu dengan kemauan keras sengaja menarik waktu itu dari keseharianmu mengurus usaha.

Kamis kemarin akhirnya dengan kemauan keras, kami berhasil "melarikan diri" sejenak dari Jogja menuju Purbalingga, cuma buat melepas kangen dengan orang tua, dan benar2 cuma buat tidur-tiduran di sofa. haha.

Tapi jika kamu sedang benar-benar ingin bersantai, kamu bisa melihat bahwa hal-hal yang terjadi selama perjalanan, sesederhana apapun itu, jadi kelihatan menarik dan menyenangkan. Dan bisa menjadi pengingat perjalananmu saat itu.

Pagi, setelah menitipkan kucingku yang cripple itu ke Calico, kami berangkat hampir tengah siang menuju tujuan. Perjalanan tampak lancar, dengan lalulintas yang sepi karena kamis masih weekdays... diselingi sahut-sahutan whatzapp dengan asisten Poyeng, perjalanan lancar sampai mobil bak terbukaku yang humble itu -seperti biasa- macet (lagi) di Parakan, di pertigaan dekat PDAM Parakan. Alhamdulillah ditolong oleh sesama pemakai mobil "yang sering macet", aku membiarkan para lelaki asyik sendiri dan melihat-lihat sekitar, sampai aku melihat dalam sepersekian detik lewat, sebuah truk yang mengangkut 2 ekor gajah sekalian pawangnya yang menunggang gajah tersebut melaju cepat di pertigaan. Whoaa... First for a lifetime!

Daan... oke, rehat 1 jam karena macet pun selesailah dan kami melanjutkan perjalanan tanpa halangan, kecuali 2 kali mampir makan. Pelajaran : akan lebih baik jika kamu survei tempat makan dulu sebelum melakukan perjalanan, karena 2 kali mampir makan secara random picking ini, dua kali juga makanannya ga enak. - aku bisa menghabiskannya karena aku sungguhan lapar -

Seperti direncanakan, bermalas-malasan di rumah adalah satu-satunya kegiatan di rumah orang tua. Kecuali satu kali waktu ketika aku keluar untuk mencari wig untuk manekinku (as u all already know, Purbalingga dikenal salah satunya karena produksi wig-nya), kami ke daerah yang disebut desa wisata Karangbanjar. Mampir di 2 pengrajin wig dan akhirnya membeli wig di tempat terakhir. Disini kamu akan melihat perbedaan orang yang banyak bertemu orang baru dan mau terbuka, dengan orang yang tampaknya terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri dan tertutup. Di pengrajin pertama, komunikasi sulit dilakukan karena noise yang tampaknya tercipta hanya karena orang yang kami ajak bicara pikirannya sedang bercabang ke tempat lain dan mungkin tak mempercayai kami, tapi di pengrajin kedua, keluarga Maryoto, semua terasa natural serasa seperti sedang berada di rumah almarhum mbah Pudjo (adik mbah Maridjan), ketika aku dulu diajak main kesana oleh Baskara. Mereka semua tidak kenal kami, tapi membuka tangan dan rumah selebar-lebarnya untuk kami. Pengrajin yang kedua ini sudah cukup terkenal, dan sering didatangi pengunjung dari banyak tempat, dan bahkan meminjamkan kamar untuk mereka jika mereka butuh. I definitely will come back here later if i need another wig.. or just spread the words about them.

*wig untuk manekinku,.. cantiik!

Perjalanan pulang lancar dengan sedikit lebih berwarna lagi daripada ketika berangkat. Mungkin karena hari minggu, pengendara yang kami temui di jalan jadi lebih bermacam-macam.

Beberapa pengalaman yang bisa dianggap menyebalkan, seperti ada yang suka sekali membunyikan klakson meskipun aku yakin tidak butuh, pengendara motor lokal dalam kota yang jalan pelan di tengah jalan antar kota yang sempit itu dan tidak akan mau minggir meskipun di belakangnya ada mobil butuh untuk lewat (jadi kamu harus memperlakukannya sama besarnya dengan mobil), atau -sekali lagi selalu ada saat pertama untuk segala sesuatu- adalah ketika ada pengendara motor arogan yang meludahi mobilmu begitu saja??!! Aku melihat dengan jelas wajahnya, dan dia sungguh jauh dari muda. Betapa umur yang disia-siakan.

Tapi untungnya mayoritas pengalamannya menyenangkan (subyektif tentunya). Kami lewat jalur alternatif, dan aku adalah tipe yang memang tidak menyukai jalan utama yang crowded. Jadi aku benar-benar menikmati melihat pemandangan di sekitarku yang penuh bukit, sawah tinggi, kayu, rumah-rumah lokal yang menurutku justru berkarakter, dan jika melihat ke depan kau bisa melihat jalan yang akan kamu lewati jika difoto tak akan kalah dengan foto-foto jalan di luar sana yang selalu menarik kita untuk melewatinya. (Sayang aku tak bisa memotretnya karena memang tidak mungkin berhenti di jalan menanjak/menurun sempit sementara di belakangmu banyak mobil mengantri).

*Bolgheri road


Banyak sapi turunan Australia yang berkendara dengan mobil bak terbuka atau truk kecil yang lewat, dan mereka gemuk-gemuk dan ganteng, ga ada yang disiksa kookkk. Dan aku juga sempat mampir makan mi ayam di tepian sawah yang sering jadi "rest place" tidak resmi untuk pengendara yang lewat jalur ini. Dingin karena hujan, enaknya makan yang hangat-hangat.


Satu lagi pengalaman "selalu ada saat pertama" adalah ketika tiba-tiba distop Polisi di tengah jalan, deg-degan karena ga tahu kenapa, dan ternyata karena polisinya mau nebeng sampai kantor polisi sambil bawa motor yang baru kecelakaan. Sungguh situasi yang aneh ketika kami yang lebih cenderung malas dekat dengan polisi, justru lewat di jalan, membawa polisi di bak kami, dan ada beberapa polisi lain yang kelihatan seperti sedang mengawal kami.

Setelah semua yang kuceritakan diatas -kecuali mobil yang lagi-lagi macet sejenak- perjalanan berakhir lancar seperti biasa. Dan setelah kami -seperti biasa juga- sempat ditebengi anak jalanan, dan menjemput Beck (yang secara mengecewakan dibiarkan dalam keadaan sangat kotor, padahal aku menitipkannya dalam keadaan super bersih) di Calico, kami sampai di rumah dan mulai melakukan rutinitas harian lagi.

So, stretch your leg. Walk for a bit. Dan pasti kamu akan menemukan pengalaman baru. :)

Monday, February 4, 2013

Nonton Film Musikal di Bioskop Indonesia kota Jogja

Tgl 1 Februari 2013 malam, secara impulsif kami pergi ke Empire XXI untuk nonton. Membeli tiket Les Miserables di pemutaran terakhir, ekspektasiku adalah aku akan bisa menonton dengan tenang diantara orang-orang dewasa. But what i'v got?

Yeah, aku memang menonton bareng dengan orang dewasa semua. Beberapa malah bule dan mahasiswa non Indonesia. Tapi aku ternyata salah besar berharap bisa menonton tanpa gangguan.
Aku memang sedari awal niat nonton Les Miserables malam itu. Selain karena trailer musikalnya kadang ditayangkan di Fox Movies Premium, juga karena Anne Hatteway yang berhasil menggondol piala Golden Globe gara2 perannya di film drama/musikal ini.

Dan... Aku baru sadar, bahwa bioskop ternyata sungguhan jadi tempat "mojok" sekaligus pdkt pasangan muda-mudi (atau om-om dan mbak-mbak?). Yup, memang sering kami menemui pasangan yang suka duduk di pinggir jembatan jalan raya. Tapi tampaknya mereka yang lebih berduit memilih bioskop. Sama2 berefek dingin dan privat. (dengan catatan aku yang terpaksa jadi saksi di sebelah mereka ga dihitung)
Ada yang memutuskan memilih ngobrol bisik2 dr awal film sambil saling melontarkan pertanyaan dan jawaban yang bikin ketahuan bahwa mereka nonton bukan untuk nonton tapi cuma cari tempat pacaran (yah, bukannya nguping. Kepaksa denger saja karena aku duduk di sebelah). Ada beberapa yang walk out di tengah film. Dan ada yang di setengah terakhir film memutuskan lebih asyik surfing di smartphone mereka.

Aku sama sekali ga nyangka, kalo ternyata separuh dari mereka yang nonton Les Miserables yang dimulai jam 9 malam ini ga ngerti kalo mereka bakal nonton film musikal!!!

Sangat menyebalkan ketika ada yang "sok" entah biar terlihat keren di sebelah temen/pasangannya, ketawa dan malah komentar cukup kencang : "ya ampun.. nyanyi lagi??". *gubrak
Setidaknya riset dululah dengan film yang mau ditonton? Jadi ga bakalan keliatan bodohnya di tengah film. Atau ga berekspektasi yang salah. Atau merasa membuang uang percuma. Jangan asal main tonton karena Hugh Jackman aja. (kayak aku dulu dah menduga sebelum duduk di kursi itu bahwa film Snow White and the Hunts Man itu bakal mungkin mengecewakan. Dan aku mengambil resiko dengan sadar.)
Thank God, setidaknya masih ada sebagian yang lain yang benar-benar datang untuk nonton, tahu kalo ini film musikal, dan beremosi di saat-saat yang tepat. Dan yang paling penting memutuskan bahwa keberadaan sebagian yang kubahas di awal tadi tidak akan bisa mengganggu keasyikan mereka nonton.

Yah memang ini bukan kali pertama aku nonton bareng orang2 (yang tidak seperti aku), ga menganggap nonton film di bioskop adalah sebuah ritual sakral. Hanya saja, entah kenapa aku malam ini tidak emosi karena terganggu nonton, tapi justru merasa jadi lebih tertarik untuk membicarakan mereka sejenak..
Dasar, pasar film Indonesia... ck ck.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...