intelectual property.

you are welcome to look, read, study, and learn. you are welcome to link/share it. you are welcome to quote or rewrite some of my post, but please don't forget to mention me/link my site.
but you are not allowed and please don't take any of the picture (with or without watermark) from this site without my permission.

Monday, December 31, 2012

Tips Mencari Rumah Kontrakan

Mengontrak rumah adalah salah satu cara bertahan hidup yang memerlukan seni dalam mengerjakannya. Ya harus mau tak mau belajar jika kita memang belum mampu punya rumah sendiri (yang mana aku yakin, beli/bikin rumah -apalagi dengan dana cekak- butuh seni yang tak kalah lihainya).

Setelah hidup berdua dengan partnerku sekarang, selama kurun waktu hampir 5 tahun kami sudah beberapa kali pindah kontrakan, dan sekarang menempati rumah ketiga (ya ya, kami memang orang yang sangat pemilih dalam hal menempati rumah). Dan kayaknya asyik juga jika bisa membagi beberapa pengalaman dalam proses pencariannya.


Sedikit berbagi pengalaman, aku kurang lebih selalu mendapatkan rumah dengan kondisi yang kuinginkan. Rumah dengan penerangan dan sirkulasi udara yang baik di lingkungan yang aman. Dengan garasi atau halaman sebagai ruang ekstra. Dengan approval kenyamanan dari teman yang main. Lalu apa yang membuat kami jadi kutu loncat?

Rumah pertama, yang merupakan satu rumah 2 lantai yang dibuat memiliki akses terpisah (aku tinggal di lantai dua, dan pemilik di lantai satu), memiliki pemilik yang terlalu ikut campur dalam hal mengurus rumah yang kami tinggali. Setiap kali kami pergi keluar kota setidaknya lebih dari 2 hari, tiba-tiba entah pagar di cat ulang.. tanaman dirapikan.. semua sampah disapu..
Hmm, bukannya enak?
Coba saja dulu, dan kau akan merasa seperti diperlakukan sebagai remaja tanggung yang membersihkan halaman saja tidak bisa?? Mau? Dan diluar bahwa hal ini sudah kuhitung melanggar batas properti. I pay for it u know.
Listrik dan air yang masih jadi satu akan membuat kamu merasa kamu selalu membayar lebih banyak daripada yang sebenarnya kamu pakai. Ditambah sering mendapat wejangan untuk tidak buang-buang air, atau parkir dengan benar (karena sharing garasi juga).
Serasa bukan ngontrak, tapi tak lebihnya seperti nge-kos biasa dengan harga lebih mahal. Maka 1 tahun saja, kami hengkang.

Rumah kedua, di daerah perkampungan. Pemilik yang juga tinggal hanya di sebelah rumah, bertolak belakang dengan rumah pertama, sangat baik dan tidak pernah mencampuri urusan kami sama sekali. Tapi karena mungkin kesalahan di pembangunan pondasi yang tidak baik, dinding sangat lembab dan seperti merembes. Hal ini sangat merugikan karena aku menyimpan knitting needle bambu di rumah, dan mereka semua jamuran!! (hikz), dan kamu harus ekstra pikir ulang jika ingin menaruh barang atau furnitur mepet tembok.
Sebenarnya hal ini masih bisa ditolerir kalau saja tetangga persis sebelah rumah (yang adalah kakak pemilik rumah), tidak selalu merasa juga punya hak untuk keluar masuk halaman rumah yang kami pakai. Semena-mena memakai teras untuk kepentingan pribadi tanpa ijin dulu, memakai air, atau di satu titik mengakui hak milik barang yang kutaruh di lantai teras, (meskipun itu hanya bel sapi yang belum sempat kusimpan ke dalam rumah, yang mana kebetulan pemberian mertuaku -pencurian??-).
Tidak menghormati batas properti adalah sekali lagi titik matiku untuk memilih respek atau tidak dengan seseorang. Maka dengan berat hati, setelah 3 tahun, aku tak tahan lagi.

Rumah ketiga (yang sekarang masih kutinggali) pemiliknya tidak tinggal di Jogja dan kami melakukan segala proses pra tinggal melalui teman pemilik yang juga tinggal di dekat rumah, berada di perumahan kecil dengan tetangga yang mengurusi urusan masing-masing (thank God!), kecuali ketika tiba iuran sampah dan satpam saja setiap bulan berkumpul.
Tapi, kelemahan hidup diantara banyak keluarga muda (dari observasi) adalah mereka entah kenapa seolah tidak peduli dengan balita-balita mereka berkeliaran di jalan perumahan sesiangan tanpa pengawasan! (Sebagian mungkin karena mereka merasa jalan itu masih seperti halaman rumah atau sebagian karena di ujung jalan ada satpam menjaga perumahan mereka -padahal selalu ada jam kosong dimana tidak ada satpam berjaga!-). What a shame, karena anak-anak itu jadi kekurangan pendidikan dini. Ada yang suka menyongsong motor atau mobil yang lewat (sampai satu titik aku berpikir, mungkin ortunya sebenarnya bosan dengan anak tersebut, dan cari cara paling mudah menyingkirkannya? Seperti menunggu si anak diculik atau kecelakaan mungkin? Hush!!), dan 2 balita di rumah seberangku berubah jadi biang onar kecil yang tidak pernah tahu batas antara boleh atau tidak ataupun aman atau tidak. Seperti melempar sesuatu ke jendela atau garasi seseorang, mencabuti bunga di halaman seseorang, menyebar "rintangan" di tengah jalan, tidak mengembalikan barang teman yang dipinjam, atau mencegat motor tukang sayur. Dan selalu dilakukan tidak di depan orang tua mereka! Yang paling geli adalah moto mereka yang pasti selalu kudengar setidaknya sekali setiap hari, yaitu : "kabuuur, kabuuur". hahaha. (My children will not like them! I'll promise make sure of that!)
Tapi beda dengan dua rumah sebelumnya, yang paling mengganggu ternyata bukan tetangga (dua anak itu sudah takut padaku hanya karena aku pernah menegur mereka untuk tidak mencabuti bunga di halamanku di depan ayah dan ibu mereka. LOL). Tapi karena tampaknya pihak tempat aku melakukan perjanjian kontrak tidak mengatakan kondisi sebenarnya dari lingkungan rumah. Setelah tinggal disana, aku mendapati bahwa air sumur sama sekali jauh dari jernih, dan di satu titik kemarau kami harus mengebornya lebih dalam agar mau mengalir. Dan terakhir, ternyata lingkungan ini pernah memiliki sejarah kebanjiran! (yang tampaknya masih jadi ancaman potensial hingga detik ini). Ketika daerah belakang rumah banjir hingga sepinggang, meski rumah kontrakan tidak kena dampak, tapi kami akan mendengar suara air tanah merembes bergemuruh mengalir mengisi sumur (apakah mungkin akan banjir dari sumur??), dan air sumur akan jadi lebih keruh lagi daripada sebelumnya. Hmm.. tampaknya kami akan tinggal 1 tahun saja disini.
Ck ck ck...


Jadi, apa yang harus kamu pikir dan lakukan ketika mencari rumah kontrakan?

Pertama, tentukan di daerah mana kamu ingin tinggal. Bukan membicarakan sebuah tempat yang spesifik, tp lebih baik jika kamu memilih kelurahan yang mau kamu tinggali supaya bisa mendapatkan kesempatan lebih besar. Lebih baik memiliki pilihan daerah lebih dari satu untuk jaga-jaga. Lalu pilih juga di lingkungan seperti apa yang kamu mau. Apakah di kampung atau perumahan.
Pemilihan ini akan menentukan budget yang harus kamu siapkan. Dalam perkembangannya, budget dan tempat akan saling mempengaruhi satu sama lain, tergantung mana dulu yang diprioritaskan.

Kedua, jarak antara waktu pencarian dan bulan kamu harus pindah akan menentukan hasil yang kamu dapat. Semakin awal kamu mulai mencari, semakin besar kesempatan kamu mendapatkan rumah kontrakan yang paling mendekati yang kamu inginkan (coz bicara dari pengalaman : gimanapun "perfect"nya, semua rumah kontrakan pasti memiliki "flaw" yang cepat atau lambat akan kamu temukan selama tinggal -what a shame-). Waktu yang biasa kuambil adalah 2 bulan sebelum batas waktu pindah.
Jangan sungkan berpanas ria keluar masuk gang. Dan jangan sungkan bertanya pada penduduk lokal yang kamu temui di jalan di daerah yang kamu incar, karena banyak rumah kontrakan berpotensi yang tidak ditulisi "Dikontrakkan" di depan pagar, menunggu untuk ditinggali, dan hanya orang sekitar yang tahu itu sedang mencari penghuni.

Ketiga, tentukan batas minimal kondisi rumah/lingkungan yang kamu inginkan. Hal yang paling kupikirkan adalah dari segi kesehatan. Sirkulasi udara dan kelembaban adalah hal krusial selain tentunya masalah keamanan. Pembagian dan berapa jumlah ruang yang kau butuhkan juga akan mempengaruhi pilihanmu.
Dan jangan lupa cek kondisi air (sumur dan bocor -atau bahkan banjir?-) juga bagaimana tetangga sebelahmu. Karena percaya atau tidak, salah satu dari hal ini akan membuatmu memutuskan akan memperpanjang kontrak atau hengkang dari rumah kontrakan yang kamu tinggali sekarang, meski senyaman apapun kondisi rumah kontrakanmu diluar masalah air dan tetangga. Dan sayangnya kemungkinan besar tidak akan kamu ketahui kondisi sebenarnya sebelum kamu tinggal di rumah tersebut. (dan aku belum menemukan metode untuk deteksi dini. Mungkin ada yang tahu dan bisa bantu??)


So what the best?? Tinggal di rumah sendiri saja lah kalau bisa. Hahaha.


Hope these tips can help and make some difference.

Happy Hunting!!

Friday, December 14, 2012

Sedikit celoteh tentang film Life of Pi


Note : ini hanyalah celotehan saya saja mengenai pengalaman menonton film, jadi mohon jangan kecewa kalo kamu mungkin ga menemukan sinopsis dari filmnya sendiri.

Movie : Life of Pi (2012)
Sutradara : Ang Lee
Fox 2000 Pictures





Aku sudah lama tidak membeli buku diluar buku merajut. Cukup lama untuk jadi satu orang yang tak pernah mendengar tentang "Life of Pi" sebelum aku menonton filmnya tadi.

Dan okay... Satu faktor yang bikin aku mati-matian menyempatkan nonton di kesibukan harian yang aduhai, adalah karena Colin Morgan menyebutkan "Life of Pi" sebagai salah satu buku favoritnya. Make me wonder.. What the beauty about it?
Tentu saja ditambah dengan rating imdb yang diatas 8 meskipun aktor utamanya bukan bintang terkenal, dan sutradara dengan portfolio yang tak perlu diragukan. (kalo enggak sih mungkin aku langsung pilih skip ke bukunya langsung saja kan?)

Aku selalu percaya buku asli akan selalu lebih bagus daripada film adaptasinya (satu-satunya anomali adalah "How to Train your Dragon" yang justru terbalik), oleh karenanya film ini akan menentukan semua apakah akhirnya aku akan mau mengorbankan jatah bukuku bulan ini bukan untuk beli buku tajut tapi untuk novel ini.
And fortunately, it's worth! (buku rajut.. Tunggu bulan depan lagi ya.. Hikz)

...
Ok.. Aku akan bahas sedikit tentang pengalamanku selama nonton..
Sisihkan tentang memakai otak terlalu banyak untuk berfikir dan mengikuti isi film melalui dialog, karena seperti membuka lembaran graphic novel full color dengan imajinasi dan pewarnaan yang cantik. Dialog adalah narasi pendukung, dan visualmu yang akan menuntunmu menikmati isi film ini.
Indah dari detik pertama! (dengan real 3D tentunya, meskipun aku sebenarnya lebih suka nonton film tanpa harus pakai kacamata hitam di ruangan yang sudah gelap). Imajinasi visual film ini "liar". Membuatku ingin membandingkannya dengan yang di buku yang apakah akan lebih liar.
Karena nonton film ini, aku jadi sungguhan percaya National Geographic bilang bahwa manusia baru melakukan eksplorasi 5% dari keseluruhan samudra.

(warning : this sentence below maybe contain spoiler)
Seperti Dora the Explorer bilang, bagian mana yang kau sukai?
Untukku pribadi, most shocking moment adalah ketika aku seketika langsung menyadari bentuk asli dari pulau mengambang itu ketika disorot dari jauh.
Dunia penuh dengan keajaiban. Tak ada yang tak mungkin (apalagi jika itu berhubungan dengan alam) meskipun itu mungkin begitu berlawanan dengan akal sehatmu.
...

Happy watching!
;)

Wednesday, October 24, 2012

Apakah aku sudah cukup baik?


Dulu ketika aku lebih muda dan lugu, aku selalu bangga dengan kelugasanku, tak merasa sungkan mengatakan apa yang sedang kupikirkan. Karena aku percaya itu yang terbaik. Dan akupun tak begitu peduli dengan semua resikonya.

Tapi itu dulu. Ketika aku hanya hidup untukku sendiri. Ketika aku masih orang bebal yang tak mengerti perasaan orang lain, bahkan orang yang kuanggap penting. Ketika yang ada di hidupku hanya aku dan khayalanku sendiri. Dan permasalahan dalam hidupku hanyalah kegalauan khas pubertas remaja.

Tapi sekarang semua sudah berbeda. Waktu terbukti memang berperan sungguh dalam pendewasaan diri. Dan tampaknya fungsi manusia sebagai makhluk sosial lebih berperan dalam kehidupan sehari-hariku.
Dari mengenal dan berhubungan dengan lebih banyak orang, aku yang sekarang sudah lebih bisa menjaga perasaan orang lain lewat perkataan dan perbuatan.

Aku adalah tipe orang yang memperlakukan orang lain dengan cara seperti aku ingin diperlakukan oleh orang lain. Juga seringkali mempertimbangkan suatu kemungkinan berdasarkan apakah aku bisa melakukannya atau tidak jika berada di situasi yang sama.

Itulah mengapa aku jadi senewen setengah mati jika bertemu orang yang menuntut banyak darimu, tapi dirinya sendiri tak mampu/mau memenuhi bagian kewajiban setelah tuntutannya dipenuhi. Atau yah.. Sekedar melaksanakan apa yang sudah dikatakannya.
Atau jika ada orang yang menyalahkanmu atau merepotkanmu untuk kesalahannya atau kemalasannya sendiri.

Dan yang lebih menyebalkan sebenarnya adalah:
Apa yang kau tulis/ucapkan untuk mereka jadi berbeda dengan apa yang sebenarnya ada di pikiranmu.

Aku bagai mengkhianati diriku sendiri dengan tidak lugas. Dan hal ini sungguh menggerogoti mentalku karena aku merasa mengalami kemunduran dalam hidup! Karena menyimpan sendiri kritik yang sebenarnya penting untuk pendewasaan seseorang hanya karena sangat ingin menjaga perasaan mereka. Dan berakhir dengan diam-diam aku jadi tidak bisa mempercayai mereka dan enggan memperdalam hubungan. Ini bukan suatu hal yang menyenangkan buatku.

Please, jangan hanya meminta orang lain berada di sepatumu. Cobalah sepatu orang lain juga.
Please, perlakukanlah orang lain seperti kau ingin diperlakukan.

Apakah adil jika kamu ingin diperlakukan dengan baik tapi memperlakukan orang lain dengan buruk?

Dalam menjalin hubungan dengan orang baru yg belum kau kenal/tahu, berbicaralah dengan sopan dan penuhi janji yang sudah kau ucapkan. Jangan memberi harapan palsu atau basa-basi. Jangan merepotkan orang lain untuk hal yang bisa kau lakukan sendiri, dan jangan melakukan sesuatu dengan niat jahat sebagai dasarnya. Sebagai gantinya, yakin pasti kau akan dihormati dan tak disepelekan.

Aku tahu kok, ini instropeksi untukku sendiri juga. ^ ^

Mungkin ada baiknya sekali-kali kita bertanya pada orang disekitar kita, bagaimana sebenarnya kelakuan dan sifat kita menurut pandangan mereka. Apakah kita sungguh sudah menjadi orang yang baik seperti perkiraan kita? Apakah benar semua orang yang berhubungan dengan kita merasa beruntung dan senang berhubungan dengan kita?


Monday, October 15, 2012

Keluarlah dari tempurungmu, Beredarlah ;)


Beberapa lama yang lalu aku sempat mengalami kebosanan.. Bingung karena tampaknya hidup sudah mentok. Dengan rutinitas yang sama. Tak ada tempat untuk berkembang.
Tapi apakah benar begitu?

Tampaknya itu hanyalah kebodohanku semata. Melihat dunia dalam kacamata kuda. Kesalahan bodoh yang tanpa sadar selalu saja terulang.

Karena jika mau sedikiit saja melangkahkan kaki keluar, membuka sedikit kacamata kudamu (aku ga yakin berani bilang melepaskannya), kau akan menemukan kembali jantungmu berdetak lebih cepat dan napasmu memburu karena bersemangat.

Keluar dari tempurungmu sedikit saja dan kau bisa melihat banyak sekali orang hebat di luar sana.
Ya, memang untukku mendongak ke atas selalu dapat mengembalikan semangatku dan menghidupkan kembali mimpi-mimpiku (bersamaan dengan membuat sedikit jadi depresi karena teingat kembali bahwa dirimu itu masih bukan siapa-siapa. LOL)

Tapi manusia hanyalah setitik debu di jagat raya, hidup di bumi hanyalah sebentar saja, akan sangat tersia-sia jika kamu tak berani keluar dari zona nyamanmu, jika kamu tidak melangkah keluar melihat dunia yang mungkin asing bagimu, jika kamu tak mengambil semua kesempatan yang mnurutmu bagus untukmu-seaneh apapun itu kedengarannya, atau meskipun itu akan membuatmu repot dan tidak nyaman.
Aku masih bukan apa-apa dibandingkan orang-orang hebat diluar sana.


Additional note :
Tapi bagaimanapun hidup adalah mengenai memilih antara A dan B, jadi tetap tentukan prioritas jika suatu kesempatan itu datang bersamaan waktunya dengan kewajiban lain yang sudah kamu sepakati lebih dulu. Semua orang lebih menghargai orang yang menepati janji dan mampu mengatur waktu. ;)


Have a nice day! Have a nice life!
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...