intelectual property.

you are welcome to look, read, study, and learn. you are welcome to link/share it. you are welcome to quote or rewrite some of my post, but please don't forget to mention me/link my site.
but you are not allowed and please don't take any of the picture (with or without watermark) from this site without my permission.

Thursday, August 14, 2014

Jurnal harian : ngomongin Jogja

*Kali Code,  2009

Kalau dihitung sejak masuk kuliah dulu, aku sekarang tinggal di Jogja sudah 10 tahun.
Karena kuliah di UGM dan menjadi pendatang, otomatis daerah jelajahku berada di radius sekitar UGM juga. Macam Jakal bawah, Gejayan, Seturan, dan Malioboro.

Dulu Jakal memang sudah ramai, tapi dulu penuh dengan ruko-ruko kecil, dan beberapa hotel. Sekarang penuh dengan waralaba multinasional, cafe besar, dan butik besar.

Kos-kosan dulu sederhana, sekarang banyak yang seperti kamar hotel.

Daerah jalan Solo antara Seturan hingga pertemuan dengan Gejayan dulu adalah pusat pertokoan yang terdiri dari ruko-ruko kecil memanjang ke atas. Sekarang diisi bioskop besar yang selalu ramai, mall, toko pusat grosir, dan hotel-hotel tinggi seakan tumbuh dari dalam tanah.

*bawah jalan layang, 2009

Daerah Seturan yang dulu banyak sawah, sekarang diisi banyak toko dan cafe juga karaokean. Semakin banyak kos-kosan mahal, dan bahkan jalan selokan sempit itu sekarang sudah diperlebar!

Dahulu jalan Palagan dan jakal atas adalah wilayah yang terasa asing, sepi, dan kampung. Tapi sekarang jalan ini menjadi salah satu bagian dari jalur berkendara yang selalu dilewati setiap hari. Harga tanah ikut menjadi mahal seperti di pusat kota Jogja, dan banyak sekali perumahan mewah dibangun disini.

*Mataram city, 2013

Tiba-tiba Jogja punya apartment tinggi yang bukan rusunami. Dan mall lebih dari satu. Tampaknya Jogja memang adalah kota besar, dan aku masih saja terkejut. Masih mengharapkan Jogja adalah tempat seperti yang digambarkan di FTV yang diisi banyak warna hijau dan jalan yang lapang (seperti Jogja yang kuketahui semasa aku awal kuliah dulu).

Sampai sekarang aku masih belum terbiasa dengan jalanan Jogja yang mendadak jadi penuh terus. Masih saja mikir kalau harusnya jalanan Jogja penuhnya pas weekend aja. Tapi nyatanya sekarang justru jalanan Jogja sepinya ketika hari minggu. Jogja sudah jadi tempat untuk tinggal dan beraktifitas, bukan lagi tempat untuk escape dari rutinitas, dan aku masih saja belum siap menerimanya...


Dan herannya, meski sudah banyak mall, cafe, dan banyak pilihan tempat makan.. aku masih saja suka bingung mau makan dimana.. dasar cewek -.-;

Dan sekarang aku baru sadar, kalo papan reklame yang banyak dan bertumpuk-tumpuk itu sungguhan sangat mengganggu mata..


@ajeng_poyeng
2014

1 comment:

R. Melati said...

Huah, ikutan sedih membaca nya.

Aku juga sepertinya suka jogja yang dulu. terakhir ke Jogja tahun 2013

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...