intelectual property.

you are welcome to look, read, study, and learn. you are welcome to link/share it. you are welcome to quote or rewrite some of my post, but please don't forget to mention me/link my site.
but you are not allowed and please don't take any of the picture (with or without watermark) from this site without my permission.

Friday, November 1, 2013

Tips Iseng : Fotografi Produk ala Ajeng~Poyeng

Dulu pas kuliah memang sempet dapat kelas yang membuat lumayan lah tahu sedikit dasar tentang fotografi. Cuman bedanya, kalau pas kuliah ada kesempatan untuk praktek pakai kamera SLR hasil minjem maksa selama satu semester, pada kehidupan sehari-hari ternyata aku harus melewati masa pake kamera hape biasa-pindah ke kamera pocket hasil nyomot dari rumah ortu (yang sekarang 500 ribu juga dah dapet yang bagus banget)-pindah ke kamera smartphone yang bisa makro-baru deh beneran bisa praktek dengan SLR punya sendiri (yang sekarang sudah ada huruf "D" di depannya)

Hasil foto memang keliatan banget njomplangnya jika dibandingin antara dulu pertama pake kamera hape dengan sekarang yang pake kamera DSLR, terutama di segi kualitas foto. Tapi kebaikan dari praktik selama bertahun-tahun itu kita jadi terus belajar dan jadi lebih baik meski via otodidak macam aku.

awal-awal dulu pertama masih pake kamera hape biasa Nokia 3360
-musti banyak edit main warna-
sekarang dengan DSLR Canon Eos (masih belajar)
-ga usah diapa2in lagi!-
Foto Poyeng selalu adalah mengenai foto produk. Aku lumayan percaya diri dengan cara mataku menilai sesuatu itu bagus dalam konteks 'jika menjadi foto', jadi aku akan berusaha supaya foto yang kuambil paling mendekati atau lebih baik dibanding dengan yang saat itu dilihat dengan mata sesungguhnya.

Beberapa pedoman pribadi yang selalu kupakai kalau mau foto produk adalah...

No Flash Light!
Aku sangat ngga suka pake lampu flash untuk photo produk, semua warnanya selalu jadi berantakan! Dan tentunya jadi lebih jelek daripada jika sedang dilihat langsung. Untuk kamera DSLR, memang dengan sedikit pencahayaan dan memanfaatkan menu kreatif di kamera, tanpa flash pun kamu masih bisa mendapatkan kualitas foto yang bagus, tapi bagaimana kalau kamu tidak punya lampu yang memadai, dan hanya memegang kamera pocket atau kamera hape?

Jangan biarkan foto dengan pencahayaan buruk yang justru makin membuat produkmu tampak jelek jadi satu-satunya dokumentasi produkmu. Itulah mengapa, memakai kamera apapun, aku selalu mengambil foto dengan cahaya matahari sebagai sumber pencahayaan (kecuali kalau kepepet banget harus foto malam hari. Harus diakalin gimana caranya). Tentu saja tidak menaruh produknya dibawah terik langsung, tapi mengambil foto di tempat teduh tepat di samping sumber cahaya. Biasanya aku foto-foto di depan pintu atau jendela.

Close Up dan Makro.
Photo produk selalu tentang close up. Karena hal itu akan menonjolkan detil produkmu dan mengisolasi pusat perhatian foto langsung ke produk yang kamu foto. Itulah mengapa jangan sampai kamu puas dengan foto yang blur -kalo perlu hapus saja- dan bikin lagi sampai dapat yang jelas.

Untuk kamera pocket, pilih menu makro (gambar bunga itu lho), tapi tetap perhatikan jarak maksimal kedekatan benda dengan kamera, karena jika terlalu dekat pasti selalu gagal fokus. Lebih baik ambil foto dengan fokus baik meski jarak agak jauh, nanti masih bisa di-crop kok ;)

dengan kamera pocket
Untuk kamera hape, ada baiknya jika kamu memang meniatkan kamera hapemu sebagai media untuk foto produk, pilih hape yang kameranya memiliki kualitas gambar setidaknya 3MP dan mempunyai fungsi makro di kameranya. Dan jangan lupa membandingkan hape dengan kualitas kamera sejenis sebelum membeli (gsmarena.com bisa dijadikan salah satu referensi bagus untuk membandingkan kualitas smartphone). Selain itu, aturannya sih sama saja dengan cara foto dengan kamera pocket. Sejak aku memegang smartphoneku sekarang (Samsung tua Galaxy Ace Plus yang meskipun masih gingerbread, tapi dia memiliki kamera 5MP dengan makro yang bagus, dan dengan bantuan aplikasi kesayangan camera360) aku bisa dibilang mempensiunkan kamera pocketku. *katching!!

dengan kamera dari smartphone dengan makro bagus
Untuk kamera DSLR sih ngga usah diobrolin lagi ya, karena aku menganggap kalau mampu pegang kamera jenis ini, setidaknya ngga perlu lagi diajarin caranya nyari makro dan close-up.

Pilih Background yang tepat.
Seiring pengalaman, aku menemukan bahwa semakin simple background akan semakin menonjolkan foto produkmu.
Jika warna adalah elemen utama foto produk Poyeng saat itu -seperti memfoto benang misalnya-, maka aku akan memakai background plain polos dan sebisa mungkin mendekati warna putih. Dan pastikan bahwa foto yang kamu upload nanti paling mendekati warna asli dari produk yang kamu foto.


Tapi jika warna bukan hal yang paling ingin ditonjolkan -seperti foto rajutan dengan model-, background apa saja tidak masalah, bahkan kadang cuek saja main efek foto seperti retro atau lomo style, yang penting produknya tetap terlihat jelas detilnya dan menjadi fokus utama foto.


Komposisi
Jangan lupa memperhatikan mau ditaruh mana letak produkmu dalam selembar foto persegi panjang itu. Apakah mau ditaruh tepat di tengah, atau di salah satu sudut foto dengan membiarkan bagian lainnya kosong (sekali lagi supaya pusat perhatian tetap pada produkmu). Pakai saja feelingmu mana yang menurutmu sreg saat itu.


Watermark!!
Yang satu ini jangan lupa kamu tambahkan ke foto produkmu sebelum kamu upload ke website atau media sosialmu. Karena begitu kamu memutuskan upload sesuatu ke internet, kamu harus sadar dan menerima bahwa fotomu bisa diakses siapa saja dan bahkan bisa dikopi siapapun. Meskipun ngga selalu yang mengambil fotomu berniat buruk, kadang ada yang hanya ingin menyimpannya sebagai referensi. Tapi dengan adanya watermark, siapapun yang melihat fotomu nanti akan tahu bahwa kamu yang membuatnya dan tahu namamu jika ingin menghubungimu.
Tapi... pastikan juga penempatan watermarkmu meskipun menjadi semacam signature fotomu, tidak terlalu merusak keindahan fotomu untuk dilihat. Siapa tahu seseorang yang menyimpannya berniat menjadikannya wallpaper di desktopnya. ;)


Resize.
Sebelum diupload, jangan lupa meresize fotomu menjadi sekitar 100-200kb saja dengan dimensi sekitar 900x600 supaya fotomu tetap jelas. Biasanya untuk mencapai ukuran itu aku menurunkan kualitas fotonya menjadi sekitar 60-80%.

* * *

Jadi, tanpa perlu menunggu punya studio apalagi lampu pencahayaan yang keren itu, kita bisa bikin foto produk yang cukup oke dengan memakai apa yang ada di sekitar kita saat ini. .
Yang kubutuhkan saat akan foto produk hanyalah : sebuah kamera, spunbound atau kain putih untuk background yang kugelar di pintu rumah yang kubuka lebar, sinar matahari di jam-jam sebelum atau sesudah jam 12 siang, lalu produknya sendiri tentunya.

Setelah itu foto akan kuedit minimalis (resize, crop, dan kutambahin watermark) di Adobe Photoshop 7.0 (yap masih pake yang jadul) atau jika sedang ga bisa akses PC aku memakai aplikasi Photo Editor di hape yang bisa didapat gratis di android market.

Dan sudah deh..
Foto yang dihasilkan ngga jelek-jelek amat kan? :p


3 comments:

Rini Hastuti said...

bener bangetttt~ flash tu malah kadang bikin noise difoto (dan muka jadi kelihatan lebih berminyak :D)

Blazer korea said...

bagus ya hasilnya :( aku pengen, beli cuman bingung kamera yg bagaimana sih yg bagus buat foto produk dan kisaran berapa harganya.

Ajeng Sitoresmi said...

Aku buka dpreview.com buat ngintip n bandingin spesifikasi kamera2 yang aku mau (untuk akhirnya milih salah satu). Untuk harga sih cuma toko kamera yang tahu.. jangan lupa bandingin harga dari beberapa toko dan lebih baik ambil kamera baru saja dan jangan second.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Sponsored Video